Begitulah mungkin kira-kira yang ada di benak setiap orang tua ketika mengetahui bahwa anaknya mengidap autis. Autisme dianggap sebagai vonis kejam, kutukan, bahkan akhir dunia.
Tidak ada orang tua di dunia ini yang menginginkan anaknya mengidap autisme. Namun sebagai orang tua, menyalahkan keadaan yang ada bukanlah suatu tindakan bijak. Bagaimana menyikapi hal tersebut adalah kunci pengembangan potensi anak. Tentu kita ingin anak-anak autis ini dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Itulah yang dapat kita berikan sebagai orang tua bagi anugerah Tuhan yang luar biasa ini.
Mungkin kita pernah mendengar kisah Ibu Sri Murni dan anaknya Faisal (kisahnya tertuang dalam buku “Faisal sayang Mama sampai Tua”). Faisal yang merupakan anak autis tumbuh dan berkembang menjadi anak dengan potensi yang luar biasa. Faisal berhasil memecahkan rekor MURI untuk band autis pertama di Indonesia, sudah mampu menghafalkan 3 juz Al Qur’an, dan sederet prestasi lainnya. Hasil ini bukan tanpa perjuangan yang luar biasa dari Sang Ibu. Bukan tanpa tetesan keringat dan air mata di tengah kondisi ekonomi yang kekurangan. Dan bukan tanpa kemungkinan untuk dapat dicapai oleh anak-anak autis yang lain dengan prestasi yang jauh lebih membanggakan.
Lalu, bagaimana menjadi orang tua bagi anak-anak autis? Bagaimana menjadi manajer bagi pengembangan potensi dan kesuksesan anak-anak ini? Berikut adalah tips dari berbagai sumber untuk melakukannya..
